Aku mendengarkan semua celotehannya tentang organisasi.
Seperti tersihir dan merasa seakan-akan aku ada dalam lingkaran itu
Lalu tanpa sadar, aku juga ikut terbawa dan mulai mengingat-ingat kembali
"Seorang Ernest yang dulu selalu bersamaku memperjuangkan segala hal, kini telah berubah menjadi orang lain"
"Atau seorang Olivia dan Siput yang dulu kami perjuangkan dan bimbing bersama, saat ini telah bisa berdiri bahkan berlari meninggalkanku"
Tanpa sadar dengan apa yang kurasakan, aku pun menangis dipelukannya..
Lalu beralih lah cerita itu pada sebuah ide cerita tentang seorang temannya yang sangat ia banggakan
"Yarangga"
Ia mengatakan bahwa Yarangga selalu memiliki ide cerita yang ajaib untuknya.
Aku mendengarkan cerita tersebut dengan hati yang....(boleh kah jika aku mengatakan sakit?)
Sebuah ide yang cukup simple, namun bisa ia banggakan sampai berjam-jam bahkan berhari-hari.
Lalu setelah itu dengan tanpa beban ia mengatakan tepat di depan wajahku
"Nanti kalau semua skripsi dan urusan proses akhir udah selesai, aku mau garap film dari idenya Yarangga"
Aku hanya tersenyum dan mengangguk saat ia mengatakan itu.
Sekuat inikah tekad yang dimiliki oleh MEREKA YANG MEMILIKI AMBISI SETINGGI LANGIT?
Seperti tersihir dan merasa seakan-akan aku ada dalam lingkaran itu
Lalu tanpa sadar, aku juga ikut terbawa dan mulai mengingat-ingat kembali
"Seorang Ernest yang dulu selalu bersamaku memperjuangkan segala hal, kini telah berubah menjadi orang lain"
"Atau seorang Olivia dan Siput yang dulu kami perjuangkan dan bimbing bersama, saat ini telah bisa berdiri bahkan berlari meninggalkanku"
Tanpa sadar dengan apa yang kurasakan, aku pun menangis dipelukannya..
Lalu beralih lah cerita itu pada sebuah ide cerita tentang seorang temannya yang sangat ia banggakan
"Yarangga"
Ia mengatakan bahwa Yarangga selalu memiliki ide cerita yang ajaib untuknya.
Aku mendengarkan cerita tersebut dengan hati yang....(boleh kah jika aku mengatakan sakit?)
Sebuah ide yang cukup simple, namun bisa ia banggakan sampai berjam-jam bahkan berhari-hari.
Lalu setelah itu dengan tanpa beban ia mengatakan tepat di depan wajahku
"Nanti kalau semua skripsi dan urusan proses akhir udah selesai, aku mau garap film dari idenya Yarangga"
Aku hanya tersenyum dan mengangguk saat ia mengatakan itu.
Sekuat inikah tekad yang dimiliki oleh MEREKA YANG MEMILIKI AMBISI SETINGGI LANGIT?
Ada beberapa hal yang membuatku merasa terabaikan..
Pertama, walaupun aku tidak pernah memberikan ide-ide cerita sehebat yang dimiliki Yarangga, namun aku pernah membagi beberapa cerita sampahku padanya. Ia memang mengatakan "Ayo kita lakukan"
Hanya saja, pancaran matanya saat itu, bukan seperti pancaran matanya saat membicarakan ide dari Yarangga.
Pancaran mata yang ia berikan padaku, hanya sebatas menghargai
Namun yang ia berikan untuk ide cerita Yarangga, adalah sebuah ambisi dan obsesi yang harus terwujud.
Jadi seperti inikah rasanya disisihkan karena tidak bisa memberikan pancaran mata penuh ambisi itu kepadanya?
Lalu yang kedua, saat ia mengajakku untuk ikut bergabung menggarap ide cerita milik Yarangga.
Aku hanya bisa tersenyum sambil menggeleng
Ia bertanya "Mengapa?"
Aku hanya bisa menjawab "Bukan duniaku"
"Lalu seperti apa duniamu?"
Rasanya ingin sekali aku menjawab "Yang semuanya dipenuhi tentang kebahagiaanmu, walaupun itu tidak membuatku bahagia"
Namun aku tau mungkin saja jawaban itu bisa menyakitinya
Akhirnya aku menjawab "Duniaku...dunia yang tidak ada siapa-siapa di dalamnya.Sepi tanpa apapun"
"Apa aku tidak kamu izinkan untuk masuk ke hidup kamu?"
"Aku mengizinkanmu untuk masuk ke hidupku, tapi tidak keduania ku"
Ia pun rasanya bisa menerima jawaban kesakit hatianku atas dukungan terhadap ambisinya..
Lalu aku pun berfikir, apakah aku tidak bisa memberikan raut muka dan pancaran mata penuh ambisi kepadanya, sama seperti yang bisa dilakukan oleh Yarangga, walaupun hanya lewat ide cerita?
Pertama, walaupun aku tidak pernah memberikan ide-ide cerita sehebat yang dimiliki Yarangga, namun aku pernah membagi beberapa cerita sampahku padanya. Ia memang mengatakan "Ayo kita lakukan"
Hanya saja, pancaran matanya saat itu, bukan seperti pancaran matanya saat membicarakan ide dari Yarangga.
Pancaran mata yang ia berikan padaku, hanya sebatas menghargai
Namun yang ia berikan untuk ide cerita Yarangga, adalah sebuah ambisi dan obsesi yang harus terwujud.
Jadi seperti inikah rasanya disisihkan karena tidak bisa memberikan pancaran mata penuh ambisi itu kepadanya?
Lalu yang kedua, saat ia mengajakku untuk ikut bergabung menggarap ide cerita milik Yarangga.
Aku hanya bisa tersenyum sambil menggeleng
Ia bertanya "Mengapa?"
Aku hanya bisa menjawab "Bukan duniaku"
"Lalu seperti apa duniamu?"
Rasanya ingin sekali aku menjawab "Yang semuanya dipenuhi tentang kebahagiaanmu, walaupun itu tidak membuatku bahagia"
Namun aku tau mungkin saja jawaban itu bisa menyakitinya
Akhirnya aku menjawab "Duniaku...dunia yang tidak ada siapa-siapa di dalamnya.Sepi tanpa apapun"
"Apa aku tidak kamu izinkan untuk masuk ke hidup kamu?"
"Aku mengizinkanmu untuk masuk ke hidupku, tapi tidak keduania ku"
Ia pun rasanya bisa menerima jawaban kesakit hatianku atas dukungan terhadap ambisinya..
Lalu aku pun berfikir, apakah aku tidak bisa memberikan raut muka dan pancaran mata penuh ambisi kepadanya, sama seperti yang bisa dilakukan oleh Yarangga, walaupun hanya lewat ide cerita?
Apakah UNTUK MEREKA YANG MEMILIKI AMBISI SETINGGI LANGIT, tidak ada tempat sedikitpun untukku ingin membagikan ide sampahku, yang setidaknya bisa membuatnya menoleh sesaat ketika aku bercerita?
Untukmu yang memiliki ambisi setinggi langit...
Aku hanya bisa mendukung dan berdoa yang terbaik untukmu.
Aku hanya bisa berharap keajaiban, yang kuminta bukan untukku, melainkan untukmu
Untukmu yang memiliki ambisi setinggi langit,
Aku belajar menjadikan senyummu, menjadi bagian dari senyumku
_Goodluckmyambitiousman (i'mherewithyou)_
Untukmu yang memiliki ambisi setinggi langit...
Aku hanya bisa mendukung dan berdoa yang terbaik untukmu.
Aku hanya bisa berharap keajaiban, yang kuminta bukan untukku, melainkan untukmu
Untukmu yang memiliki ambisi setinggi langit,
Aku belajar menjadikan senyummu, menjadi bagian dari senyumku
_Goodluckmyambitiousman (i'mherewithyou)_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar