Senin, 25 Juli 2011

KETIKA INGATAN MASA KECIL BERJALAN MENJADI DOMINAN (BERHARAP TIDAK DIPERMAINKAN)


Tepat beberapa bulan lalu, aku teringat tentang seorang teman
Teman lama yang hampir 12 tahun hanya menjadi missing person dalam daftar teman-temanku
Namun entah mengapa, beberapa bulan lalu saat tiba-tiba memikirkannya dan mencoba mencarinya melalui dunia maya,
Aku merasa hentakan dalam hatiku
Ya, bagian masa kecilku yang hanya kuanggap missing person,
Mampu membuatku menghabiskan waktu mencari informasi tentangnya

Dia adalah perubahan yang membuatku tertegun sejenak
Aku mencoba menggali ingatan masa kecilku tentangnya
Tentu saja aku mengingatnya
Bahkan masih mengingat nama lengkapnya saat mencoba mencarinya di dunia maya
Menemukannya seperti mendapatkan hadiah ulang tahunmu dalam waktu yang dipercepat

Dia adalah seorang Bhakti Eko Nugroho
My workacholic man…
Awalnya kami memulai kembali membangun ingatan kami melalui pesan instan
Aku sangat tidak menyangka,
Dia yang dulu dalam ingatanku adalah seorang yang simple..
Seorang anak laki-laki kelas 5 SD yang masih senang bermain dan membuat onar
Kini berubah menjadi seorang yang tidak pernah terbayangkan olehku sama sekali

Aku tidak pernah menyangka ia akan meloncat sejauh itu untuk memperbaiki sikap anak-anaknya
Yeah, he is the changer of possibility
Lalu tanpa direncanakan, terjadilah pertemuan singkat itu
Aku mengiyakan saat ia mengajakku keluar untuk bermain sesaat meninggalkan kepenatan aktifitas kami
Tanpa aku ketahui, ia mengajakku ke tempat dimana kami dulu bersekolah
Sekolah Dasar yang telah berubah menjadi bangunan yang tidak lagi kami ketahui
Kami menyusuri tiap jengkal perubahan bangunan tersebut
Mencoba mengingat kembali ada dibagian mana kami dulu
Perdebatan kecil yang membuat kami tertawa
Serta kami pun tenggelam dalam mitos dulu tentang kamar mandi angker yang membuat kami merasa ketololan diri kami 12 tahun yang lalu
Sampai akhirnya ia menggenggam tanganku
Membawaku naik ke bangunan atas, tempat terakhir kami menghabiskan 6 tahun bersekolah disana
Aku menatap fana bangunan itu

Tiba-tiba saja, lembar-lembar kenangan itu terhampar bebas di mataku
Dulu, aku mengakui…
Aku sering memandanginya dari kejauhan
Tanpa diketahui oleh siapapun
Bahkan oleh sahabat-sahabatku
Aku hanya ingin memilikinya dalam ingatanku sendiri
Ketika aku sedang tenggelam dalam memori itu,
Tiba-tiba ia juga mengingat semua permainan kami 12 tahun yang lalu
Tanpa aku sadari, ia membawaku perlahan untuk membuka kembali rasa berdebar-debar itu
Rasa yang mengingatkanku pada keegoisan, hanya ingin memilikinya sendiri dalam ingatanku

Sampai akhirnya perbincangan tentang masa lalu dan diri kami pada saat ini berpindah
Dari tempat yang satu ke tempat lainnya
Tapi aku masih tetap mengingat dan mematri dirinya dalam ingatanku
Aku sempat mengingat perbincangan kami lewat pesan instan tentang dirinya yang telah merelakan seorang teman masa kecilnya untuk sahabatnya
Awalnya kupikir, itu adalah murni kisah pribadinya
Namun tanpa sadar, aku mulai menelaah bahwa dirikulah yang sedang dibicarakannya
Namun aku tidak mau menegaskan itu padanya karena akan membuat posisi kami semakin tersudut
Hanya akan mempersingkat hubungan lama ini
Egoiskah aku, Bhakti?

Aku sempat menjelaskan tentang porsi seseorang dalam hidupku
Lalu ia pun bertanya, apa posisinya di diriku
Sejujurnya aku tidak bisa menjawab
Karena dia bukanlah kawan, lawan, sahabat atau saudara
Aku tidak pernah mengkategorikan seseorang yang mampu membuatku berdebar-debar dalam 4 kategori itu
Namun jika memang harus memasukkannya dalam kategori,
Maka dia adalah my workacholic man

Tiba-tiba saja, ia bicara tentang perasaan hatinya
Sambil menggegam tanganku, aku bisa merasakan perasaannya yang sedang berantakan
Aku menunggunya mengatakan kata-kata itu,
Namun pada akhirnya ia hanya berkata “ikhlas”

Aku tidak ingin semua ini berhenti
Aku tidak ingin hubungan ini hanya diikhlaskan saja
Aku merasakan hal lain dalam hatiku
Sekali lagi, apakah aku egois, Bhakti??

Ketika mengingatnya, aku selalu teringat tentang seorang Arai
Aku menginginkan dia memperjuangkan sesuatu seperti Arai
Penuh ambisi, tanpa mengesampingkan perasaan hatinya
Namun harapanku hampir pupus ketika ia mengatakan
“Namun Zakiyah Nurmala tidak dimiliki oleh siapapun pada waktu itu”
Lagi-lagi, dengan segala dorongan hati dan keegoisanku, aku mengatakan
Perjuangkan apa yang layak kau perjuangkan
Klasik, tapi aku menginginkan itu…
Lagi Bhakti, apakah aku egois??

Hingga akhirnya ia mengatakan takut kehilanganku
Dan lagi-lagi mengakhirinya dengan berkata “ikhlas”
Hingga saat ini aku tidak pernah lagi mendapat kabar tentangnya

Apakah semua hal yang berjalan beberapa jam waktu itu, hanya akan lewat begitu saja?
Apakah semuanya akan berakhir tanpa penjelasan sedikitpun
Dan hanya akan meninggalkan dia sebagai seseorang yang hanya ingin kuingat sendiri?

Dalam beberapa bulan lagi, ia akan menginjakkan kakinya di Negeri Sakura
Aku berharap dan berdoa semoga mimpinya bisa ia raih
Seperti Zakiyah Nurmala yang walaupun tidak diketahui siapapun, pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk Arai,
Dan berharap Arai tetap menjaga hatinya untuk dirinya
Atau berharap suatu hari nanti Arai akan datang dengan senyuman seperti biasanya dan menghampirinya,
Yang pada saat itu, ia tidak akan menghindar lagi…

Untukmu, dearest Bhakti Eko Nugroho…
Ada sesuatu yang tidak bisa juga aku ucapkan
Bukan karena aku tidak memiliki pilihan seperti katamu
Namun karena aku,,,
Dari 12 tahun yang lalu, hingga saat ini
Selalu menyimpan debaran itu seorang diri
Dan tidak menyangka kalau kau sekarang bisa sedekat ini,
Bahkan bisa kusentuh
Mimpi indah yang kutunggu selama 12 tahun, akhirnya terjadi

Walalupun butuh waktu 12 tahun untuk menemukanmu lagi
Namun ternyata debaran itu tidak pernah berubah…

Best regard,
Bhakti Eko Nugroho
My Workacholic Man